*nyoba bikin cerpen*
Anna melihatnya, ditengah- tengah kerumunan pejalan kaki. Dibawah derasnya hujan yang mengguyur bumi, seorang lelaki kurus berdiri sambil menengadah menatap langit. Ia terlihat mencolok, karena ia satu-satunya orang yang tidak menggunakan payung. Lelaki itu tampak tak peduli akan tatapan heran orang yang lalu-lalang disekelilingnya, seolah-olah hanya ia yang berada ditempat itu. Anna hampir ingin menangis melihat mata lelaki itu. Mata yang sendu, sarat akan kepedihan. Anna menghampirinya, memayunginya. Lelaki itu mendongak, menatap Anna. Kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Anna dengan sejuta tanya dalam pikirannya. ***
Anna menatap pohon sakura dari balik jendela kelasnya, pohon sakura tersebut mulai berbunga, mulai menunjukkan keindahan yang hanya dimiliki oleh negara yang terkenal akan kemajuan tekhnologinya itu. Sudah sebulan Anna berada di Jepang, ia terpaksa pindah dan meninggalkan Indonesia, tanah kelahirannya, karena ayahnya dipindah tugaskan ke negara kanji ini. Sudah tiga hari pula Anna bersekolah disekolah swasta Tsukuba Daigaku. Sambil bertopang dagu, Anna kembali mengingat kejadian tiga minggu yang lalu. Saat ia bertemu dengan lelaki misterius bermata sendu. Anna menghela nafas, bertanya-tanya dalam hati mengapa tatapan lelaki itu begitu sendu.“Anna-chan?” Panggil seseorang menyadarkan Anna.“Ya Mayumi?”“Kenapa melamun?” Tanya Mayumi. Mayumi merupakan teman pertama Anna di sekolah Tsukuba Daigaku. Mayumi orang Jepang asli, bermata sipit dan berkulit putih seperti orang Jepang kebanyakkan.“Ah, tidak. Hanya sedang berpikir saja.” Jawab Anna dengan bahasa Jepang yang pas-pasan. Mayumi tersenyum maklum, kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya, menyalin catatan pelajaran kemarin. Saat Anna hendak mengalihkan pandangannya, Anna menangkap sosok familiar yang akhir-akhir ini sering mengganggu pikirannya. Lelaki kurus yang menantang hujan itu sedang berjalan masuk kedalam kelasnya. Ia menggunakan seragam yang sama dengannya, menenteng tas, kemudian berjalan melewati Anna yang terbengong-bengong. Ternyata lelaki itu duduk dua bangku dibelakang Anna.*** Haruhi Takegawa, itulah nama lengkap laki-laki itu. Ini Anna ketahui dari cerita Mayumi. Haruhi tidak punya teman, karena Haruhi jarang masuk sekolah. Sepertinya Haruhi sakit, tapi Mayumi dan teman-teman sekelas tidak ada yang tahu Haruhi sakit apa. Haruhi selalu sendirian, baik saat istirahat maupun saat pulang sekolah. Saat istirahat, Haruhi selalu duduk sendirian dibangkunya, atau berdiri dipinggir jendela sambil menatap sakura. Karena tidak tahan melihat itu, akhirnya saat pulang sekolah Anna menghampiri meja Haruhi.“Takegawa.” Panggil Anna, Haruhi mendongak memandang Anna. Anna makin gugup karena melihat wajah Haruhi yang tanpa ekspresi.“Mungkin kamu tidak ingat aku, tapi kita pernah bertemu sebelumnya. Aku yang memayungimu saat hujan deras beberapa minggu yang lalu.”“Aku tidak ingat.” Haruhi berdiri dari duduknya, dan berlalu meninggalkan Anna.“Tunggu!” Teriak Anna. Sekejap teman-teman sekelas Anna memperhatikan mereka. Haruhi menoleh. Anna menarik nafas dalam-dalam.“Aku Anna Narahsya, ingin berteman denganmu Haruhi Takegawa.”*** Anna berjuang, untuk bisa dekat dengan Haruhi. Anna tidak tahu apa yang memotivasi dirinya, ia hanya ingin mengusir mendung dimata Haruhi. Haruhi selalu menolak untuk dekat dengan Anna, ia bahkan menepis tangan Anna saat Anna menyentuh lengannya. Selama berminggu-minggu Anna terus mengajak Haruhi mengobrol, mengajaknya makan bekal bersama dan lain-lain. Hingga suatu hari Anna tersentak kaget karena bentakkan Haruhi.“Haru-chan, boleh aku makan telor gulung ini? Sepertinya ini enak.” Ujar Anna saat mereka sedang menikmati bekal mereka. Haruhi sudah mulai tidak mengusir Anna lagi saat Anna mendekatinya. Walaupun Haruhi masih belum mau mengobrol banyak dengan Anna.“JANGAN!” Teriak Haruhi.Anna melonjak kaget.“Kamu, aaarrgh!” Haruhi menjambak rambutnya frustasi.“Cukup Anna.” Ujar Haruhi, ini pertama kalinya Haruhi menyebut nama Anna. “Jangan dekati aku lagi.” Haruhi merapikan bekalnya dan bangkit dari duduknya.“Mengapa?” Tanya Anna dengan bibir gemetar.“Kamu menggangguku! Tolong jangan dekati aku.”“Mengapa?” Tanya Anna lagi sambil menahan air mata, seolah ada sejuta mengapa dalam hatinya. Haruhi tak menjawab, ia tetap berjalan meninggalkan Anna.“Aku menyayangimu Haruhi!!” Teriak Anna. Sejenak Haruhi berhenti, kemudian ia menoleh. Kembali Anna melihat kesedihan yang mendalam dimata Haruhi.“Kamu akan menyesal mengatakan itu.” Kemudian Haruhipun pergi, meninggalkan Anna yang menangis ditempat duduknya.*** Anna terbelalak kaget saat mendapati Haruhi ada didepan pintu pagar rumahnya. Haruhi terdiam mematung dibawah siraman hujan yang deras. Anna langsung berlari keluar rumah sambil membawa payung, kemudian memayunginya.“Haruhi kenapa ada disini? Kenapa kamu tak bawa payung? Nanti kamu sakit.”Haruhi tersenyum pahit. “Aku memang sudah sakit Anna-chan.” Anna agak kaget mendengar Haruhi memanggilnya dengan menggunakan ‘chan’.“Apa maksudmu Haru?”“Aku sakit Anna-chan, aku terkena Aids.”BRUK.Payung Anna terlepas dari genggamannya.Anna menatap nanar Haruhi yang ada dihadapannya, siraman hujan membasahi seluruh tubuh Haruhi, matanya redup.“Ba... bagaimana...”“Bagaimana bisa?” Haruhi memotong kata-kata Anna. “Ayah tiriku yang menularkannya, ia menyodomiku, dan sekarang ia membagi virusnya ketubuhku.”Anna tak dapat lagi membendung air matanya, kakinya lemas, dadanya sesak, semua terjawab sudah. Semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya terjawab karena pengakuan Haruhi.“Sudah kubilang bukan? Bahwa kamu akan menyesal telah menyukaiku?” Haruhi tersenyum, lagi-lagi senyum pahit. “Terima kasih Anna-chan, karena kamu satu-satunya orang yang memayungiku juga melindungiku dengan kehangatanmu.” Kini Anna dapat melihat Haruhi menangis. Haruhi mengecup lembut pipi Anna.“Gomenasai.” Ujarnya, kemudian Haruhi berlari meninggalkan Anna yang semakin terisak dibawah derasnya hujan. Haruhi tidak masuk sekolah, hingga dua minggu berikutnyapun Haruhi tidak masuk sekolah. Anna mencoba mencari tahu kabar Haruhi dengan menghampiri rumah Haruhi. Rumah Haruhi kosong, Anna mendapat kabar dari tetangga Haruhi bahwa Haruhi sedang di rumah sakit, Haruhi akan menjalani operasi tiga hari lagi. Anna kembali terisak, ia dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Haruhi, bagaimana Haruhi harus menjaga diri dengan menjauhi teman-teman sekelasnya agar tidak tertular, bagaimana penderitaannya menahan sakit seorang diri. Anna tidak tahu bagaimana caranya untuk menolong Haruhi, ia ingin Haruhi sembuh, walaupun kecil kemungkinannya.Anna teringat akan dongeng lama Jepang tentang menerbangkan seribu pesawat dari kertas, katanya jika kita menerbangkan seribu pesawat kertas bertuliskan permohonan, permohonannya akan terkabul. Dan Anna melakukannya, ia membuat origami pesawat kertas tiap harinya, waktunya hanya tinggal tiga hari sampai operasi Haruhi. Sambil membuat seribu pesawat kertas dengan tulisan ‘semoga Haruhi sembuh’ Anna berdoa, ia berdoa disetiap lipatan kertas, ia berdoa disetiap tulisan yang ia buat. Anna semakin yakin bahwa ia tidak menyesal, ia tidak menyesal telah menyukai Haruhi.*** Dunia menangis, hujan seakan ikut mengantarkan kepergian Haruhi. Dapat Anna lihat ibu Haruhi terisak disamping nisan Haruhi. Teman-teman sekelas Anna ikut menghadiri pemakaman Haruhi. Anna berdiri mematung sambil memandangi proses penguburan Haruhi. Mayumi sedari tadi terus merangkul Anna dan menggenggam erat tangan Anna, seolah memberi kekuatan. Anna tak sanggup lagi menangis, ia mati rasa. Seribu pesawat kertas yang ia terbangkan tidak dapat membuat Haruhi terus berada disisinya. Sampai proses penguburan selesai Anna masih tetap tak bergeming, hingga ibu Haruhi menghampirinya dan memeluknya, kemudian ibu Haruhi memberikan sepucuk surat padanya. Anna membuka surat tersebut, air mata menetes membasahi pipinya.Anna-chan,Terima kasih karena kamu telah memayungiku hari itu,Terima kasih karena kamu mau berteman denganku,Terima kasih karena keceriaanmu, aku akhirnya berani menjalani operasi,Terima kasih karena telah menyayangiku,Maafkan aku Anna-chan, karena telah membentakmu, mengusirmu dari hidupku.Maafkan aku karena ternyata aku tidak bisa menahan diri, dan dengan lancang telah menyukaimu sejak kau memayungiku dulu.Tetaplah menjadi Anna-chan yang ceria,Yang selalu menghangatkanku biarpun dinginnya hujan menusuk hingga tulangku.Aku menyayangimu Anna-chan. Gomenasai,Haruhi ∞∞∞
*butuh kritik dan saran*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar